Saturday, 18 June 2016

Tegap badannya, pendek rambutnya, dan sawo matang kulitnya begitulah penampilan fisik dari Fachri Firmansyah mantan pemain timnas U-21 yang mungkin namanya masih asing ditelinga. Maklum sudah sejak tahun 2014 dia berhenti dari dunia sepakbola karena cedera ligamen yang amat parah dan untuk menyambung hidupnya sekarang dia bekerja sebagai sekuriti di sebuah kantor.

Siapa sangka sebelum dia menjadi seorang sekuriti dulunya dia pernah membela Indonesia sebagai pemain timnas U-21 di piala COTIF Spanyol Agustus tahun 2014 lalu. Di negeri matador inilah kisah tragis Fachri Firmansyah dimulai. Berawal ketika pertandingan timnas U-21 melawan levante saat Firman bermain kakinya diinjak salah seorang pemain levante lalu firman pun terkapar.
"Sampai sekarang masih saya simpan videonya. Nih," kata Firman sembari memperlihatkan sebuah rekaman pertandingan yang tersimpan di telepon selulernya. "Sebenarnya cuma gini saja kejadiannya. Tapi kok bisa hancur semuanya," ucapnya dengan nada heran.


Ketika video tragis tersebut diputar, Firman memang tidak menitikkan air mata namun dari raut wajahnya tergambar jelas kesedihan yang amat dalam. Karena sejak insiden itu dia sudah tidak bisa kembali untuk bermain bola di lapangan hijau seperti dulu lagi. "Setelah itu saya kembali ke Palembang. Karena saya memang pemain Sriwijaya U-21," lanjut Firman.
Dengan cedera parah yang ia alami, Firman berharap adanya kepedulian dan tanggung jawab PSSI untuk menyembuhkan cederanya. Namun sayang harapan Firman tersebut hanya tetap menjadi harapan, sudah 2 bulan ia menanti namun tidak kunjung datang penanganan untuk menyembuhkan cideranya.

"Saya ditelantarkan. Tidak diperhatikan. Setiap hari cuma makan dan tidur di mess. Saya tiap hari mendesak agar segera dioperasi. Akhirnya operasi di RS Hoesin. Tapi sampai sekarang ya masih sakit, Mas. Rasanya gimana gitu di dengkul saya. Buat jongkok saja sakit,"
Setelah operasi di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang, Firman kembali ke Surabaya. Di Kota Pahlawan, ia menjalani terapi di salah satu klinik yang ada di Jalan HR Muhammad. "Setiap kali terapi habis Rp 200 ribu. Lama-lama uang saya habis, Mas. Akhirnya saya berhenti terapi karena nggak ada uang," ujar Firman

"Semuanya lepas tangan, PSSI, Sriwijaya FC. Cuma om Rudy,Thok yang lainnya tidak pernah."
Tutup Firman.
Setelah berhenti dari lapangan hijau Firman sempat mengalami depresi dan trauma dengan sepakbola. "Kaki ini parah, Mas. Sakitnya minta ampun. Selesai sudah. Tak ada sepakbola lagi. Hati ini sudah trauma, Mas. Saya lihat bola saja sudah malas. Melihat pertandingan sepakbola juga malas rasanya, Mas. Saya trauma. Saya sakit hati. Benci. Percuma sepakbola lagi," tuturnya kesal.
Dan sekarang ini Firman sudah bangkit dan sedang mengumpulkan uang untuk kuliah dengan bekerja sebagai sekuriti. Doakan yah guys semoga Firman dapat melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi Aamiin.

Begitulah kehidupan ini seperti roda yang berputar kadang kita berada di atas dan kadang kita berada di bawah oleh karena itu jangan pernah sombong dan tetap lah bersyukur semoga kisah hidup Fachri Firmansyah ini dapat menjadi pelajaran untuk kita ini.

9 comments: